Kisah Perjalanan ke Tule (part 1)

Tahun 2018 merupakan tahun yang begitu istimewa dalam babak kehidupan saya karena ditahun ini saya mendapat kesempatan untuk melayani tenaga pengajar khususnya untuk mensosialisasikan Materi Pengajaran Anak kepada guru sekolah minggu di seluruh distrik di Indonesia. Pulau Jawa dan Sumatera sudah saya kunjungi, bulan ini tibalah waktu untuk ke Sulawesi.

Saya ingin berbagi cerita pada perjalanan yang sangat mengesankan, terlalu indah untuk saya nikmati sendiri, disebuah tempat bernama Tule. Letak desa Tule berada di kecamatan Melonguane Timur, Kabupaten Kepulauan Talaud, provinsi Sulawesi Utara.

Jumat, 20 April 2018

Beberapa jam sebelum berangkat, sebuah pengalaman yang mengharukan baru saja terjadi, saat semua tempat penyewaan proyektor menolak untuk disewa ke luar pulau dan semua teman/ kenalan yang punya proyektor juga tidak dapat kami pinjami, bahkan beberapa jam sebelum berangkat kami hanya bisa pasrah. Namun dengan pertolongan Tuhan, disaat terkahir, seorang guru pra sekolah minggu berkenan meminjamkan proyektor pribadinya untuk saya bawa ke Tule, Sulawesi. Terimakasih mba…

Setelah semua peralatan lengkap, saya berangkat dini hari pukul 01.55 dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Sam Ratulangi, Menado.

Pada perjalanan kali ini saya ditemani Willie Bernardi, sosok yang sangat menginspirasi, jago main musik, fasih berbahasa Jerman, inggris, suka foto, sangat cool and so high (bahkan dengan high heel, percayalah tinggi saya hanya dibawah pundaknya).

Setelah sampai di Bandara Sam Ratulangi sekitar jam 06.30 kami masih harus transit beberapa jam lagi, disana kamipun berjumpa dengan ED. Aris Kusnandar dari Menado yang ikut bersama kami menuju Tule. Setelah jam 10.00 kami untuk melanjutkan perjalanan naik pesawat selama sejam munuju sebuah pulau bernama Pulau Karakelang dan mendarat di bandara Melonguane. Saya senang sekali ketika akhirnya mendarat disini, Selamat datang di Melonguane. Nama ini sangat unik, mendengar Melonguane seperti tidak berasa di Indonesia. Yup benar saja, karena pulau ini merupakan salah satu pulau dibaris terdepan di utara Indonesia, letaknya juga sangat dekat dengan pulau Miangas, perbatasan langsung Indonesia dan Filipina.

Saat kami mendarat di bandara Melonguane ternyata bandaranya kecil dan sederhana, mudah mudahan bandara yang baru bisa segera rampung. Kamipun baru tahu bahwa beberapa tahun yang lalu jika ingin ke Melonguane hanya bisa ditempuh dengan jalur laut yang sangat sulit, kebayang besarnya ombak samudra. Kami bersyukur karena sekarang sudah setiap hari, ada satu kali pulang pergi penerbangan dari dan Menado ke Melonguane. Kami disambut dengan hangat oleh gembala setempat namanya Hd. Besinung. Setelahnya kami makan disebuah rumah makan Panorama, tempat makan dengan pemandangan laut khas dengan hamparan pasir dan persinggahan kapal-kapal nelayan. Sambil makan, yang bikin keren adalah viewnya panorama khas pesisir. Cantik banget lihat para nelayan dengan perahu mendarat. So pasti menu makannya pasti ikan laut yang segar dan fresh banget.

Setelah itu kami berangkat dari Melonguane menuju Tule sekitar 45 menit. Disepanjang perjalanan pemandangannya sangat menarik dari daerah pesisir dipenuhi dengan banyaknya pohon kelapa, jembatan dipinggiran laut, aneka gereja dihampir setiap beberapa ratus meter dengan keunikannya. Satu hal juga yang buat orang Jakarta seperti saya menjadi heran adalah semua rumah orang di Melonguane pagarnya berbentuk sama, rapih dan berwarna pink, rasanya seperti berada dalam sebuah cluster amat besar. Ternyata ini adalah salah satu program dana desa untuk pembangunan pagar. Buat pink lover kalian pasti amat senang disini. Sepanjang jalanan memandang suasananya pagar pink. Foto diambil dari dalam mobil.

Naik mobil di Tule tidak boleh cepat-cepat, bukan karena indahnya pemandangan yang terlalu sayang untuk dilewatkan namun karena ada aktivitas dipinggir jalan raya. Bayangkan saja sinyal telpon berjenis smartphone amat susah digunakan, yang menjadi raja adalah handphone jadul yang hanya bisa dipake buat telpon dan SMS dengan operator Telkomsel. Lantas apa hubungannya dengan jalan? ya, sinyal hanya tersedia di jalan raya, tidak ada sinyal didalam rumah jadi kalau mau telpon atau SMS harus ke jalan raya. Jadi jangan heran kalo disana banyak orang duduk/ berdiri dijalan raya bahkan kawanan anjing-anjing sangat suka untuk duduk-duduk jadi penguasa jalan raya.

Setelah 45 menit perjalanan kami sampai di Tule dan disambut oleh warga sekitar, tidak seperti di Jakarta yang umat kristianinya sedikit disana mayoritas adalah umat kristiani, jadi semua yang menyambut kami adalah jemaat gereja kami sendiri yang tinggalnya juga sangat dekat dari rumah ke gereja. Disana karena letaknya yang dekat maka Willie tinggal disebrang gereja, rumahnya Hd. Besinung, sementara saya tinggal rumah ibu Albertina Masoara yang letaknya hanya beberapa rumah disamping gereja.

Ibu Tina adalah sosok yang sangat terpelajar S1 lulusan pendidikan guru sekolah dasar di Universitas Negeri Menado, seorang guru di TK pertiwi Tule. Saya begitu mengagumi sosoknya yang penuh semangat, energik dan begitu melayani pekerjaan Tuhan. Dengan pengalamannya itu beliau juga mengajar dengan penuh semangat anak-anak sekolah minggu. Di Tule jumlah anak sekolah minggu setiap mengajar sekitar 40-50 orang.

Sorenya sambil asyik mengobrol untuk persiapan besok saya mengajar, kami makan berdua dengan lahapnya. Tidak seperti di Jakarta yang selalu makan nasi disana, makan talas, ubi atau jagung itu makanan pokok. Talasnya sangat enak dan terlebih adalah aneka ikan segar yang benar-benar segar dengan dabu-dabu yang pedas. Wiuh, sungguh enak rasanya.

Malamnya kami ke gereja untuk mempersiapkan peralatan baik laptop, proyektor, karton yang di tempel di dinding, keyboard, aneka peralatan materi. Juga yang tak kalah penting adalah bensin dan genset karena besok rencanya pemadaman bergilir. Di Tule setiap selasa dan sabtu adalah jadwal mati lampu. Saya tidak habis pikir kenapa bisa begitu? ternyata memang begitu keadaannya, dan bahkan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya listrik bisa mati mendadak selama ber jam-jam, yang terpenting untuk acara besok kami sudah antisipasi.

Malamnya kami menghabiskan waktu dengan berbicara dengan saudara-saudari dipinggir jalan. Sempat mencoba telpon ke Jakarta tapi sinyal susah. Smartphone saya terlalu canggih untuk digunakan. Hanya handphone jadul milik ED Aris yang aktif menyala.

Walau tanpa handphone, sinyal internet dan apalagi gooling, saya tetap merasakan kegembiraan. Kenapa? karena kalo malam disini seperti di Planetarium. Bayangkan diatas langit yang gelap, kelap kerlip di langit semua bintang bintang bercahaya. Sungguh indah teramat indah untuk dibayangkan. Saya bahkn bisa tiduran direrumputan pinggir jalan raya sambil memandanginya. Sayang tidak ada handphone low light yang bisa menangkap indahnya pesona malam itu.

Selamat tidur dulu. Tidur yang nyenyak untuk persiapan besok dengan pengalaman yang lebih mengagumkan. Bersambung…

700.000: Berbagi Untuk Sesama

Saya adalah salah satu dari sekian byk orang yang telah nyata2dibantu oleh ibu Rina (matur nuhun dah pokoknya buat ibu!).Sedikit sharing di blog ini boleh kan? (klo ada yg ngerasa sy ga boleh sharing tunjuk tangannya yaaa!!)

Saya adalah seorang anak dari seseorang yg menderita ‘kelainan jiwa’, pada masa-masa dahulu kala (masih kecil) sy sering bingung dan malu melihat tingkah laku ayah saya jika dibandingkan dgn orang tua teman2ku…sepertinya beliau terobsesi dgn sesuatu yg tidak rasional….singkat kata singkat cerita skrg sy sdh dewasa dan ayah pun sdh lansia, ternyata apa yg terjadi pada beliau tidak juga berkurang malahan makin bertambah tua makin menjadi, hingga kami sekeluarga sepakat membawa ayah ke dokter spesialis kejiwaan dan memang oleh dokter ayah saya didiagnosa memiliki ‘kelainan’ dan diberilah resep yang harus selelu dikonsumsi beliau secara rutin tiap hari..

ternyata resep tsb bukanlah jenis resep yg mudah didapat dan tersedia di tiap apotik, beruntung sy menemukan apotik yg memiliki stok resep yg diperlukan oleh ayah saya, namun nahas….beberapa waktu lalu apotik tsb terkena musibah hingga tdk beroperasi lagi…mulai pusing lagi deh saya nyari2 tuh obat yg ada di resep dokter spesialis itu. Terkadang saya harus membeli di emperan jalan didaerah kota yang tentunya tidak bs dipertanggung jawabkan keaslian dan harganya juga jauh berbeda dgn harga apotik,bisa smp 3 kali lipat dr harga apotik, namun mau bgmn lagi krn sudah bener2 mentok cari apotik yg lengkap ( heuhhhh…..mumet endasku!!)

Hingga suatu saat ketika saya membuka internet utk mencari apotik yg lengkap persediaan obatnya, mata saya terpaku pada suatu blog yg membuat saya penasaran utk membukanya karena dari cara penulisan pemilik blog sepertinya blog ini beda dgn blog2 lain yg berlatar blog farmasi,dan ternyata memang benar…..pemilik blog ini benar2 manusia yg bersahaja,sangat cocok dgn nama blog-nya “hehehehehe”. Ibu Rina sebagai pemilik blog ini benar2 tulus dan ikhlas membantu saya dalam mencarikan solusi bagi keluarga kami.Bu Rina membantu mencarikan apotik yg memiliki stok obat yg kami butuhkan,selain itu bu Rina juga memberikan gambaran ttg obat2an yg sy perlukan dengan detail dan mendalam seperti layaknya detektif sedang melakukan investigasi (pokoke te-o-pe be-ge-te!!!)

Terima kasih ya bu Rina,kaulah penerang dalam gulita,jasamu takkan terlupa (lho kok jd gini testi-nya…??).Intinya adalah blog ini sy beri penilaian 6 bintang sedangkan pemilik blog ini sudah spt keluarga kami walaupun kami blm pernah berjumpa!! BRAVO.

Testinomi dari seorang sahabat 😀

600.000 : To Do Before I Die

Hari ini angka statistik sudah menyentuh 600.00-an. Puji Tuhan untuk semua yang sudah dilalui sampai hari ini. Banyak hal yang sudah diraih dari blog ini, salah satu akhirnya bertemu teman kost lama yang sekarang sudah sukses membangun keluarganya *Peluk Yantik*

Sebenarnya ada banyak hal yang masih ingin saya lakukan, to do before  i die. Ini adalah inspirasi dari sebuah buku yang judulnya sama berisi keinginan seseorang untuk dilakukan baik untuk dirinya sendiri, keluarga, hobby, asmara, karier, masyarakat.

Dengan adanya wish list ini hidup saya jadi lebih semangat untuk meraih cita-cita  yang bertanggal. Tidak perlu yang ribet-ribet permintaannya, cukup dimulai dari sesuatu yang sederhana.

Contohnya pergi ke salon untuk perawatan tubuh lengkap. Kelihatannya sepele  buat yang terbiasa tetapi akan jadi pengalaman yang tak terlupakan buat yang baru pertama kali, sedikit  katro and ndeso hehehe. Saya juga pernah berputar-putar dan sedikit nyasar hanya untuk mencicipi semangkuk es krim Spagetti Ragusa Italia  di jalan Veteran no. 10.

Masih banyak lagi pengalaman yang  lain, tak terlupakan, lucu dan romantis. So much fun let make it happens your wish to do before you die. Apa yang ingin sekali kamu lakukan dalam hidup ini?

Naik Jetcoaster

Setidaknya itu yang saya rasakan saat ini. Jantung saya bak sedang naik Jetcoaster untuk sebuah project. Dimarahin terus disuruh investigasi, rasanya seperti disidang. Bikin report, buat “plan B” yang ribet dan akhirnya disetujui. Eh, beberapa jam kemudian masalah terpecahkan dengan sendirinya.Gambar dari sini.

Bos sampai khusus telpon saya dalam perjalanannya ke USA cuma buat bilang: “makasih ya Rin!”.
So sweet 😀 😀

Saya Orang Udik

Meski saya sudah belasan tahun tinggal di Jakarta terkadang saya merasa belum pantas menyangdang cewek metropolitan dengan semua pesona dan gegap gempita. Saya cuma orang udik yang sedang beruntung. Beruntung dengan fasilitas kantor pernah naik kapal terbang, ngomong inggris cas cis cus, makan di restoran mahal.. ya tapi tetap saja saya ini masih udik.

Seperti kemarin, saat anak tetangga (fina, 3 tahun) memungut kalender AW bekas yang saya buang ditempat sampah karena terlau banyak kalender dirumah. Dia pamer kepada semua teman-temannya karena dia dan ibunya pernah saya ajak ke restoran cepat saji ke AW beberapa waktu lalu. Ternyata dia dan ibunya seumur hidup belum pernah ke Mall, makan di AW bahkan belum pernah naik taxi. Itu semua terjadi di Jakarta……

Saya bahkan punya seorang teman sebaya yang tidak tahu cara mengambil sambal, sedotan, memakai sumpit di salah satu restoran cepat saji. Ibu fina bahkan pernah hampir melepaskan sadalnya saat saya ajak masuk ke toko roti berkincir. Itu semua terjadi di Jakarta……

Sunguh saat saya melihat realita yang ada disekitar saya hanya akan berkata: “udik banget ya mereka”. Saya akan menertawakan mereka atas perilaku polos dan lugu, tapi setelah selesai tertawa maka saya juga kan menertawakan diri sendiri karena saya juga tetap manusia udik yang hanya lulus basic satu. Betapa beruntungnya kita  “pernah” mencicipi hal diatas dan sedikit melek teknologi.

Tidak berarti pernah naik pesawat dan keluar negri  membuat kasta kita naik jadi golongan brahmana hehehe, tetap saja saya masih udik tidak tahu tata cara makan di hotel berbintang lima dan tradisi minum teh ala kraton inggris 😀

Selamat Pagi Bandung

Hari masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas namun kami sudah meluncur ke Bandung. Akan jadi hari yang sibuk dan melelahkan.
*menuju KF dan Sanbe*

Selamat Pagi 🙂

Santai Dulu

santai

Berlibur membuat perasaan lebih rileks…
Santai dulu ya, saya sedang duduk-duduk dibangku taman sambil berolahraga. Rasanya menyenangkan sekali dan sekaligus menyehatkan.

Stay Health and Super 😀