Saya Jarang Menulis

hand writingSemenjak adanya teknologi dan kemudahaannya, saya jarang sekali menulis pake tangan. Membuat report kerjaan, kirim surat, posting, semua konsep bahkan hasilnya saya tulis di PC atau laptop. Padahal kalo saya ingat zaman SD dulu, betapa sulit untuk saya menulis huruf satu persatu kemudian dirangkai kata dan akhirnya menjadi kalimat.

Belajar bertahap memakai pensil dan penghapus, lalu  saat kelas empat belajar pake pulpen dangan berkenalan dengan tipe-Ex. Tangan sampai putih-putih, apalagi kalo tidak ditutup rapat, tipe-Ex kering dan harus beli thin-ner. Kini menulis sangat mudah, jika ada kata yang salah tinggal di-delete, tidak perlu khawatir tulisannya miring-miring, kalo hurufnya tidak tepat masih bisa diganti huruf besar huruf kecilnya (caps lock, shift). Gambar diambil disini.

Dulu semua PR dan tugas praktikum masih harus tulis tangan dan itu bisa lama dan berlembar-lemar folio bergaris. Kini semua bisa lebihcepat dan  mudah, bahkan hasil rapat yang sudah ada dicatet harus saya ketik ulang agar tulisannya rapi pake arial atau times new romance hehehe *kok jadi ga pede sama tulisan sendiri*.

Saat saya belajar menulis tangan lagi ternyata tulisan saya tidak sebagus dulu waktu. Padahal ketika kita menulis pake tangan ada manfaatnya karena tangan ini dipengaruhi oleh otak, pikiran, alam bawah sadar dan perasaan. Maka emosi yang dirasakan akan tertulis dalam tulisan tangan. Mulai dari percaya diri, konsentrasi dan pikiran bawah sadar dan penyakit. Baca deh tentang Gramophology, Graphoanalysis *tanya om Google yang pinter*.

Meski zaman udah kelewat modern, ga ada salahnya mencoba menulis lagi pake tulisan tangan… cukup beberapa kalimat setiap hari. Mari menulis 😀