Sang Pemimpi

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya

Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
Raih bintang di jiwa

Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersukurlah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia

Selamanya…

Inilah sebagian lirik “laskar Pelangi” yang mengajak kita semua untuk berani bermimpi untuk mengejar cita-cita. “…walau hidup kadang tak adil tapi cinta lengkapi kita…”. Beranilah untuk bermimpi dan jangan takut menghadapi semua itu. Jangan membatasi apa yang dapat Tuhan lakukan untuk kita.

Janganlah engkau membatasi apa yang dapat Tuhan lakukan untukmu.
Apakah engkau berdoa?


Karena doamu adalah permintaanmu.
Jika engkau meyakini bahwa Tuhan kita adalah Yang Maha Mendengar, Yang Maha Kaya, dan Yang Maha Pengasih, mengapa engkau meminta yang kecil-kecil?


Sadarkah engkau bahwa dengan menakar permintaanmu, engkau sebenarnya telah bertindak seolah-olah membatasi kewenangan Tuhan?


Sadarkah engkau bahwa engkau seolah melarang Tuhan untuk mensejahterahkan kamu dan   membahagiakanmu – lebih baik dari yang sedikit engkau takarkan bagimu dalam permintaan kecilmu itu?


Janganlah engkau membatasi apa yang dapat Tuhan lakukan untukmu.
Tugasmu adalah meminta, maka mintalah.
Kemudian pantaskan dirimu bagi jawaban dari permintaanmu itu.

(Mario Teguh – Who Am I)

Untuk sahabatku mbak Rindu dan semua,  “Jangan berhenti untuk bermimpi, mintalah hal besar untuk terjadi dalam hidup ini, we were moving mountain long before we know we could”. Sahabat saya Om Cute pernah berkata: “Kamu adalah orang yang penuh mimpi dan punya banyak keinginan. Melaju untuk meraih seperti pembalap F1 yang berlari dengan kecepatan yang tak terbayangkan”. Raihlah apa yang dicita-citakan.

Laskar Pelangi Sorong

Hari ini 25 september 2008 film Laskar Pelangi mulai di putar di bioskp Indonesia. cerita yang diangkat dari novel Andrea Hirata mengambil kisah 10 anak yang berjuang untuk bersekolah dengan keterbatasan yang ada. yang pasti semua harus nonton 🙂

setidaknya sayapun punya cerita yang hampir mirip laskar pelangi tapi bukan versi anak Belitong tapi ini “laskar Pelangi Sorong” tempat saya menghabiskan masa kecil di Kabupaten Sorong, Irian Jaya, Papua.

kalo boleh dibilang masa kecil saya mirip Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara. Anak yang paling pintar, selalu ranking satu di kelas dan ketua kelas *sombong dikit*. saya pun tidak bersekolah di sekolah favorite *kalo di sana SD impres itu yang paling favorite, gedungnya sudah bertingkat*.

nama sekolah saya SD Negeri 3 HBM Sorong Irian Jaya. tipikal bangunan sekolah lama menyerupai huruf U, dengan halaman luas untuk upacara bendera dan ada taman kecil dengan  banyak bunga pukul empat (Mirabilis jalapa L) *pernah saya dan teman pergi kesekolah hanya untuk memastikan apakah jam 4 sore bunganya sedang mekar hehehe*

Gedung sekolah menghadap pemandangan bukit kuburan letaknya persis didepan sekolah, makanya saya ga takut kuburan hehehe, setiap malam banyak lampu yang menyala di tiap-tiap kuburan jadilah bukit kuburan itu menjadi terang benderang seperti pohon natal *itu bayangan saya anak SD kelas satu*

Sekolah yang memiliki banyak kenangan, dibawah pohon ketapang yang rindang, kami sering duduk-duduk pada besi memanjang zaman belanda yang masih kuat.

saya sering di ganggu atau dijahili oleh teman-teman kelas yang besar-besar *penduduk setempat banyak yang terlambat menyekolahkan anaknya sehingga kelas satu pun, mereka sudah besar-besar*. sulit sekali melafalkan huruf e, seperti eneng dibaca eneng, membaca dibaca membaca.

sewaktu bu guru sedang rapat, ia meminta saya mencatat anak-anak yang ribut di kelas, setelah mereka di hukum di tiang bendera, pulangnya saya di kejar habis-habisan untuk pembalasan, sampai-sampai saya harus  lari-lari kuburan di kejar 10 teman Irian saya *lucu sekaligus mengerikan*.

Kebiasaan penduduk setempat masih melekat di kepala saya, banyak pesta dan mabuk-mabukan, banyak juga yang kurang gizi atau tidak di kasih makan, lebih suka ubi daripada nasi. kalo bicara hantu mereka tidak kenal pocong atau kuntilanak, tahunya hantu belanda hehehe.

rumah kami cukup kecil isinya cuma televisi hitam putih dan satu radio sharp hehehe, rumah dinas departemen keuangan yang sudah usang yang punya dua pohon ketapang besar tempatku bermain di depan rumah dengan burung kakak tua *namanya Yakob* yang pintar sekali bicara kelayaknya bayi berusia 3 tahun. sejak kecil yakob sudah kami beri makanan manusia (susu dancow, bakso, kopi, sayur bening bikinan ibu, indomie) bahkan dia sudah lupa kalo dia hewan dan ga bisa makan makanan burung. bagiku dia seperti adikku hehehe

wah, masih banyak lagi cerita dan kenangan masa sekolah di Sorong, saya berharap mungkin suatu hari nanti saya dapat ke sana 🙂