Olahraga Aman Bagi Penderita Diabetes

Ibu saya penderita DM, ketika ibu saya terluka kakinya, ibu saya di bawa kw dokter. kata dokter gulanya tinggi, makanya di beri penurun gula oleh dokter, tapi setelah 2 kali minum penurun gula darah, ternya gula ibu saya semakin drop dan akhirnya tidak sadarkan diri dan di bawa kerumah sakit. olah raga apa yang tepat untuk penderita DM???? terima kasih untuk jawabannya. Oktasari Diana.

Olahraga bagi penderita diabetes melitus tentu berbeda dengan olahraga untuk orang sehat. Hal yang paling penting untuk penderita diabetes adalah olah raga yang tidak berlebihan. Jangan sampai setelah olahraga malah jadi lemes karena kurang glukosa.

Jika tidak ada luka saya lebih menyarankan berenang, senam pagi atau olah raga jalan pagi 30 menit. Cukup jalan kaki dan melakukan peregangan otot maka badan sudah bergerak dan beraktivitas *ayah saya contohnya hehehe*. Kalo sudah kuat bisa ditambah menitnya secara berkala. Biar lebih kuat tangannya, bisa juga mengangkat beban yang ringan seperti botol air mineral 600mL kiri dan kanan. Beban berlebihan sangat tidak dianjurkan.

Jika ada luka dikaki coba aja dengan bersepeda statis, genjot sepeda selama 20 menit setiap hari juga lakukan senam pelemasan untuk pergelangan kaki dan persendiaan lutut dan paha. Lakukan perawatan luka agar tidak melebar dan infeksi.Gambar diambil disini.

Hal yang terpenting adalah cek glukosa darah agar tidak terjadi hipoglikemia (pingsan mendadak karena glukosa dalam darah drop). Kalo udah mulai lemes minum teh manis untuk meningkatkan energi biar tidak 3L lemah letih lesu hehehe.

Memang olah raga teratur itu sedikit membosankan apalagi kalo sendirian, sebaiknya ajakin teman/ pasangan/ saudara biar olahraganya lebih seru atau ikutan member di sport center. Stay health and beauty.

Mengobati Luka Pada Diabetes Mellitus

Bagi penderita Diabetes Mellitus pastinya selalu berhati-hati agar  tidak terjadi luka pada bagian tubuhnya karena luka sekecil apapun jika tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat akan berbahaya. Memang, rasanya sulit menjauhkan diri dari luka, bisa saja karena kulit iritasi digaruk, lecet karena pake sandal, jatuh terkilir, tersusuk benda tumpul/tajam (jarum, pemotong kuku), dll.

Untuk orang normal, keadaan seperti diatas cukup diobati dengan obat-obatan biasa dan dapat sembuh dan mengering dengan sendirinya, namun tidak pada penderita diabetes. Luka kecil saja jika tidak segera ditangani dengan cepat akan menjalar, bengkak, bernanh dan dapat membusuk.   Lantas bagaimana mengobatinya? sebaiknya penderita diabetes sadar bahwa luka tidak mudah sembuh dan mengering dengan cepat, kadar gula yang fluktuatif dan cenderung tinggi dapat membuat keadaan memburuk dengan cepat.

Saya sangat menyarankan, segerlah ke rumah sakit untuk mencegah luka menjadi lebih besar karena tertusuk jarum yang sangat kecil bisa fatal akibatnya jika hanya didiamkan. Saya menyadari jika luka sudah agak besar dan mengganggu jaringan disekitarnya, tidak ada pilihan lain…selain amputasi.

Susah juga ya postingan kali ini…..

Lanjutkan 😀 😀

Untuk mencegah terjadinya luka, saya mengharapkan agar penderita diabetes mengatur pola hidup yang sehat, makan bergizi, olah raga dan istirahat cukup. Jaga agar gula darah tetap relatif stabil. Selalu memakai alas kaki baik diluar maupun didalam rumah, gunakan sepatu yang nyaman, sandal jepit yang baik, oleskan lotion agar kulit tetap terjaga kelembabannya (pria dan wanita juga).

Untuk tangan, tidak perlu menggunakan asesoris tambahan yang membebani (seperti jam tangan yang terlalu sempit, cincin yang kekecilan), pakai lotion biar tetep moist, dll.

Jika sudah terjadi luka, jangan panik. Segeralah ke dokter dan pantau gula darah untuk mempercepat kesembuhan luka. Pakai cairan antiseptik agar tidak infeksi. Minum obat dari dokter sesuai aturan.  Cepet sembuh ya!!

Tips Mencegah Hipoglikemia

Hipoglikemia terjadi saat kadar gula dalam darah turun melewati batas normal (60 atau 70 mg/dL). Biasanya mereka yang terkena akan  merasa pusing, kurang konsentrasi dan rasanya lemas, pingsan dan kalo ga segera ditangani bisa berbahaya.  Biasanya saya menulis artikel untuk orang lain tapi kali ini postingannya untuk saya sendiri hehehe. Saya mengalaminya… apalagi minggu kemarin hipoglikemia mode on.

Hipoglikemia bukan anemia. Memang sih gejalanya hampir mirip tapi berbeda banget cara mengatasinya. Anemia terjadi karena kurang darah, biasanya terjadi pada cewek yang sedang hamil,  habis mentruasi. Anemina bisa diobati dengan pemberian supplemnt Ferrous (banyak namanya: Fe sulfat, Fe Fumarat, Fe gluconate, Fe carbonyl) *maaf ga sebut merek*.

Sementara Hipoglikemia terjadi karena kadar glukosa dalam darah turun drastis dari keadaan normal. Biasanya yang sering mengalaminya bagi penderita Diabetes sehingga kadar glukosa darah terjun bebas, akibatnya penderita diabetes bisa pusing, lemas, keringat dingin, dan pingsan. Suntikan dextran atau injeksi glukosa beberapa mili dapat membuat sadar kembali dari pingsan. Jika dalam keadaan sudah lemes banget buruan dikasih teh manis agar gula darah normal.

Lantas kenapa ya saya bisa kena hipoglikemia padahal saya tidak kena Diabetes?
Jawabanya sungguh mengejutkan… ternyata karena saya sering kecapekan. Memag sejak peristiwa waktu itu saya mudah sekali capek, dan body mass index saya turun menjadi 16.7 *sexy slim barbie 😀 *. Saya baru kalo apa yang saya alami ini namanya “glucosidase inhibitor”.

Memang apa sih “glucosidase inhibitor”?
Ini adalah penyebab kenapa seseorang meski sudah makan banyak tapi tidak gemuk-gemuk.  Pada kasus hipoglikemia saya, Fat + protein dengan karbohidrat yang saya makan akan mengalami kesulitan “slow digestion” akibatnya sekresi insulin akan berkurang dan kadar gula saya langsung turun. Tips mengatasinya dengan cara “smaller meals, avoiding excessive sugar, mixed meals rather than carbohydrates by themselves, reducing intake of stimulants such as caffeine, or by making lifestyle changes to reduce stress”.

Penyakit Karena Obesitas

Saat ini tingkat penderita obesitas semakin bertambah-tambah. Berbagai macam cara telah dilakukan untuk menjadikan tubuh menjadi ideal. dalam tulisan saya terdahulu, Rahasia Menghitung berat Badan ideal telah dijelaskan bahwa Body Mass index orang Asia berkisar 18-23. Jika angka BMI melebihi angka tersebut maka akan digolongkan sebagai penderita obesitas.

Dalam buku Prescription for Nutrition Healing, 2006, disebutkan bahwa penyakit obesitas akan membawa resiko untuk terkena penyakit lainnya. Kita mungkin hanya tahu Obesitas dapat membuat hipertensi, serangan jantung, diabetes melitus dan gagal ginjal. Saya sendiri baru tahu kalo ada penyakit yang berkaitan langsung dan tidak langsung dengan obesitas.

Pantas saja beberapa teman saya yang agak gemuk ( naik 5-10 kilogram) mengalami masalah nyeri punggung dan persendian, mudah marah hehehehe. Namun untuk lebih tepatnya, penyakit yang berhubungan dengan obesitas terbagi beberapa bagian, yaitu:

Slightly Increased Risk Associated with Obesity
Accidents (kecelakaan)
Breast cancer (kanker Payudara)
Colon cancer (kanker usus)
Congenital defects in offspring (bawaan cacat keturunan)
Depression (depresi)
Hormone Disorder, especially sex hormone ( khususnya  hormone seks)
Infertility (kemandulan)
Uterine cancer (kanker kandung kemih)
Social isolation (isolasi  sosial)

Moderated Risk Asscociated with Obesity
Arthritis (peradangan pada persendian)
Fibriomyalgia (nyeri pada otot dan persendian)
Heart Disease (penyakit jantung)
Lower back pain (nyeri punggung bawah)
Medical complication with surgery (komplikasi medis dengan operasi)
Pheriperal vascular disease (penyakit vaskular)
Polycystic ovary syndrome ( Polisistik indung telur sindrome)
stroke (stroke)

High Risk Associated with obesity
Diabetes mellitus
Insulin resistence
High blood pressure (Hypertension)
High blood fat level (including cholesterol)
Gallstones (batu kandung empedu)
Sleep apnea (a technical term for suspension of external breathing) kesulitan bernafas saat tidur
Decreased aerobic fitness potential (penurunan potensi gerak tubuh)
Kidney cancer (kanker ginjal)

Untuk itu tetep sehat, kurangi makanan berlemak dan ayo sayangi tubuhmu 🙂

Puasa Untuk Penderita Diabetes

Bolehkan seseorang yang menderita penyakit diabetes ikutan puasa? jawabannya boleh. di bulan yang penuh berkah ini, saya mengucapkan “selamat menjalankan ibadah puasa”.

Happy Walking Not Eating Not Drinking Ceremony…..

Penderita Diabetes Melitus tipe 1 dan tipe 2 dapat menjalani ibadah puasa. Yang terpenting adalah mengukur kadar gula dan membuat kadar glukosa darah tetap terkendali. penderita diabetes biasanya punya alat test untuk mengukur glukosa dalam darah.

kadar glukosa darah terkendali baik ialah kadar glukosa darah dipertahankan kurang dari 110 mg/dl selama puasa dan 160 mg/dl setelah dua jam makan (post prandial). buat yang menderita diabetes puasa bukan berarti stop gula. kalo tidak mengkonsumsi gula  dalam jumlah cuma biasa kena hipoglikemia. *kalo ngomongin kaya gini farmakoterapi perlu satu halaman buat membahas detail*

Hipoglikemia itu rasanya badah lemah, berkeringat dingin, gemeteran dan kalo dibiarkan bisa pingsan karena kadar gula turun dengan cepat. kalo badan kita rasanya udah seperti itu maka boleh kok membatalkan puasa beberapa jam sebelumnya dengan makan yang manis-manis seperti permen, es campur, kolak, es degan, sirup ABC atau Marjan *hehehe saya haus…*

perhatikanlah pola makan selama puasa bagi penderita diabetes. bagi kita yang tidak menderita penyakit diabetes, konsumsilah gukosa yang cukup selama sahur agar kuat menjalankan ibadah puasa *jangan tidur mulu*