To Do Before I Die: One Day In Madrid

euro map

Siapakah saya beberapa tahun yang lalu? tidak ada yang mengenali. Saya hanya pribadi yang tertutup dan pendiam. Rasanya sayapun pernah merasakan beratnya hidup seperti Marshanda hehehe, dimana  orang hanya menilai dari “nilai” dan kulit luarnya. Teori labelling membelit berakar… so hard. Sampai saya mempunyai mimpi  dan berkata pada diri sendiri lihatlah saya… saya pasti akan berhasil.

Pak Mario Teguh pernah bilang: “Cita-cita adalah impian yang bertanggal”. Jika Anda telah memiliki impian, berilah tanggal bagi pencapaiannya, dan impian itu akan menjadi cita-cita. Dan, cita-cita adalah keadaan yang dicapai melalui tangga kemampuan. Dan semua rencana Anda adalah proses untuk membangun kemampuan untuk mencapai cita-cita Anda.

Saya punya sebuah buku, “To Do Before You Die”. Buku yang membuat saya tetap waras untuk meraih cita-cita meskipun semua orang berkata tidak mungkin. “…Kerja keras adalah tiket yang memberikan ijin kepada kita untuk berdiri dalam antrian menuju impian-impian kita” kata Pak Mario Teguh. Saya hidup, berani bermimpi dan merealisaikan mimpi tersebut. Sungguh tatkala saya membaca “Sang Pemimpi” dari Andrea Hirata, bahwa anak kampung Belitong saja mampu untuk bermimpi dan meraih Sorbonne, Paris… kenapa saya tidak.

Mari kita berani bermimpi… raih mimpi itu seperti seolah-olah kita akan “pergi” esok.

One day in Madrid 😀 😀

Laskar Pelangi Sorong

Hari ini 25 september 2008 film Laskar Pelangi mulai di putar di bioskp Indonesia. cerita yang diangkat dari novel Andrea Hirata mengambil kisah 10 anak yang berjuang untuk bersekolah dengan keterbatasan yang ada. yang pasti semua harus nonton 🙂

setidaknya sayapun punya cerita yang hampir mirip laskar pelangi tapi bukan versi anak Belitong tapi ini “laskar Pelangi Sorong” tempat saya menghabiskan masa kecil di Kabupaten Sorong, Irian Jaya, Papua.

kalo boleh dibilang masa kecil saya mirip Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara. Anak yang paling pintar, selalu ranking satu di kelas dan ketua kelas *sombong dikit*. saya pun tidak bersekolah di sekolah favorite *kalo di sana SD impres itu yang paling favorite, gedungnya sudah bertingkat*.

nama sekolah saya SD Negeri 3 HBM Sorong Irian Jaya. tipikal bangunan sekolah lama menyerupai huruf U, dengan halaman luas untuk upacara bendera dan ada taman kecil dengan  banyak bunga pukul empat (Mirabilis jalapa L) *pernah saya dan teman pergi kesekolah hanya untuk memastikan apakah jam 4 sore bunganya sedang mekar hehehe*

Gedung sekolah menghadap pemandangan bukit kuburan letaknya persis didepan sekolah, makanya saya ga takut kuburan hehehe, setiap malam banyak lampu yang menyala di tiap-tiap kuburan jadilah bukit kuburan itu menjadi terang benderang seperti pohon natal *itu bayangan saya anak SD kelas satu*

Sekolah yang memiliki banyak kenangan, dibawah pohon ketapang yang rindang, kami sering duduk-duduk pada besi memanjang zaman belanda yang masih kuat.

saya sering di ganggu atau dijahili oleh teman-teman kelas yang besar-besar *penduduk setempat banyak yang terlambat menyekolahkan anaknya sehingga kelas satu pun, mereka sudah besar-besar*. sulit sekali melafalkan huruf e, seperti eneng dibaca eneng, membaca dibaca membaca.

sewaktu bu guru sedang rapat, ia meminta saya mencatat anak-anak yang ribut di kelas, setelah mereka di hukum di tiang bendera, pulangnya saya di kejar habis-habisan untuk pembalasan, sampai-sampai saya harus  lari-lari kuburan di kejar 10 teman Irian saya *lucu sekaligus mengerikan*.

Kebiasaan penduduk setempat masih melekat di kepala saya, banyak pesta dan mabuk-mabukan, banyak juga yang kurang gizi atau tidak di kasih makan, lebih suka ubi daripada nasi. kalo bicara hantu mereka tidak kenal pocong atau kuntilanak, tahunya hantu belanda hehehe.

rumah kami cukup kecil isinya cuma televisi hitam putih dan satu radio sharp hehehe, rumah dinas departemen keuangan yang sudah usang yang punya dua pohon ketapang besar tempatku bermain di depan rumah dengan burung kakak tua *namanya Yakob* yang pintar sekali bicara kelayaknya bayi berusia 3 tahun. sejak kecil yakob sudah kami beri makanan manusia (susu dancow, bakso, kopi, sayur bening bikinan ibu, indomie) bahkan dia sudah lupa kalo dia hewan dan ga bisa makan makanan burung. bagiku dia seperti adikku hehehe

wah, masih banyak lagi cerita dan kenangan masa sekolah di Sorong, saya berharap mungkin suatu hari nanti saya dapat ke sana 🙂