Laskar Pelangi Sorong Kembali

Saya pernah bersekolah di Sekolah Dasar Negeri 3 HBM Sorong dari kelas 1 sampai kelas 3 di Papua Barat. Tempat itu memberikan banyak sekali memori masa kecil yang sangat menyukakan di masa 80-an akhir.

Adalah sebuah kebanggaan buat saya karena saya melihat diri saya persis seperti Lintang di film Laskar Pelangi dari Sorong Papua Barat. Bukan kehidupannya tetapi kepintarannya. Disana saya anak terpintar dikelas (memuji diri sendiri boleh ya) karena dirapot selalu ada tulisan “Rangking 1”. Bagaimana tidak, karena saya sudah lebih dulu belajar, sehingga saat teman lainnya masih mengenal huruf saya sudah belajar membaca, begitu juga soal tambah-tambahan dan kali-kalian.

Berbicara tentang kenangan masa kecil tidak ada habisnya, saya akan selalu ingat pernah pergi ke kantor Bea Cukai tempat bapak bekerja yang terletak diatas bukit dengan pemandangan laut yang indah lokasinya tak jauh dari tembok Berlin, berlibur ke pantai tanjung Kasuari dengan jalan yang belum rata, makan ikan segar sepuasnya setiap hari dengan harga murah, natalan yang penuh dengan sukacita (mayoritas disana kristen jadi berasa banget natalannya) dan aroma kue-kue natal dari tetangga. Rumah kami di daerah Remu memberikan banyak kisah salah satunya kisah “homuk” seorang preman pemabuk yang sering mengganggu saya dan kakak, belasan soang yang selalu mengejar saya sewaktu berangkat sekolah, suasana sekolah yang indah meskipun didepan sekolah adalah bukit kuburan, belanja di Yohan dan masih banyak lagi.

Namun kenangan indah di Sorong itu terhenti tatkala bapak harus berpindah tugas ke Sumatera di kota Jambi, kami harus pindah namun sebelum berangkat naik kapal Umsini dari Sorong ke Jakarta, saya berjanji dalam hati bahwa suatu hari nanti saya akan ketempat ini, tempat yang memorable buat saya.

Lebih dari seperempat abad kemudian, mimpi itu baru saja terealisasi, ditahun ini sebulan lalu saya baru kesana untuk merealisasikan mimpi itu dalam sebuah perjalanan pelayanan. Perjalanan direct flight Jakarta ke Sorong selama 4 jam lebih itu terasa singkat, setelah sampai dan sarapan pagi, hal yang pertama saya lakukan adalah ke rumah masa kecil. Ditemani oleh Ibu Purnomo yang juga bude saya, kami kesana walau ditemani gerimis hujan rintik-rintik, seperti ada perasaan campur aduk saya antara suka senang haru sedih campur jadi satu.

Rumah itu memang sudah jauh berbeda dengan rumah masa kecil saya karena sudah direnovasi total namun atmosfirnya masih sama, kamipun memberanikan diri masuk dan menyapa pemilik rumah tersebut, ternyata pemilik rumah dinas itu juga sama dengan saya, sebuah keluarga dengan tiga orang anak yang masih juga seusia saya waktu itu, ayahnya juga sama bekerja di Bea Cukai yang sudah 3 kali berpindah-pindah tugas. Kamipun sempat berfoto bersama. Senang sekali.

Kemudian kami berlanjut ketujuan selanjtunya yaitu sekolah saya tercinta, sekali lagi perasaan saya campur aduk antara boleh masuk atau tidak, dan bersyukur hari itu baru saja anak sekolah pulang dari ujian sehingga sekolah sepi hanya tinggal guru-guru yang sedang berdiskusi dan koreksi. Kami memberanikan diri untuk masuk dan memperkenalkan diri, bercerita siapa saya dan bahkan mereka sangat ramah dan memperbolehkan kami untuk berfoto bersama para guru.

Kedua kejadian itu sangat berkesan sekali, entah tiba-tiba memori dikepala saya jadi seperti flash back kembali dimana letak kelas saya, jalan yang saya lalui seperti sebuah memori puzzle yang hilang dipersatukan kembali. Tak habis-habis kalimat syukur datang meluncur dari mulut saya, terima kasih Tuhan untuk momen ini.

Setelah berfoto kami pamit dan hari-hari selanjutnya saya lakukan dengan mengunjungi tempat-temapat di kota Sorong, melihat tembok berlin di Sore hari, berbelanja ke pasar ikan disamping laut. Lengkap dengan penjual bumbu-bumbu dan papeda.

Juga melihat kapal-kapal di pelabuhan rakyat yang menyebrangkan para turis dari Sorong ke Raja Ampat. Melakukan tugas pelayanan untuk guru sekolah minggu, melihat peresmian gereja kami yang baru, mengunjungi gereja kami yang dulu banget di Malanu Pasir, mengunjungi yang sakit dan lembur mempersiapkan makanan.

Tak lupa pula kami mengunjungi keluarga kami di daerah Aimas melewati jalan-jalan baru yang sangat mulus dan indah pemandangannya, yang dulunya perjalanan sangat jauh, lama dengan moda transportasi yang tidak memadai kini sudah berubah berkat pembangunan jalan di Papua oleh presiden Jokowi.

Pengalaman ini memberikan sebuah pesan yang dalam buat saya bahwa apapun yang kamu mimpikan, akan benar-bernar terjadi jika kamu percaya. Yakinlah itu. Pengalaman masa kecil yang indah memang tidak akan terulang lagi, gunakanlah momen itu dengan baik dan jika dilain waktu kami kembali ke tempat masa itu… tempat itu tidak pernah hilang karena itu akan selalu ada dihati. Sorong akan selalu ada didalam hati, karena saya akan tetaplah laskar pelangi dari Sorong.

Kisah Perjalanan ke Tule (part 1)

Tahun 2018 merupakan tahun yang begitu istimewa dalam babak kehidupan saya karena ditahun ini saya mendapat kesempatan untuk melayani tenaga pengajar khususnya untuk mensosialisasikan Materi Pengajaran Anak kepada guru sekolah minggu di seluruh distrik di Indonesia. Pulau Jawa dan Sumatera sudah saya kunjungi, bulan ini tibalah waktu untuk ke Sulawesi.

Saya ingin berbagi cerita pada perjalanan yang sangat mengesankan, terlalu indah untuk saya nikmati sendiri, disebuah tempat bernama Tule. Letak desa Tule berada di kecamatan Melonguane Timur, Kabupaten Kepulauan Talaud, provinsi Sulawesi Utara.

Jumat, 20 April 2018

Beberapa jam sebelum berangkat, sebuah pengalaman yang mengharukan baru saja terjadi, saat semua tempat penyewaan proyektor menolak untuk disewa ke luar pulau dan semua teman/ kenalan yang punya proyektor juga tidak dapat kami pinjami, bahkan beberapa jam sebelum berangkat kami hanya bisa pasrah. Namun dengan pertolongan Tuhan, disaat terkahir, seorang guru pra sekolah minggu berkenan meminjamkan proyektor pribadinya untuk saya bawa ke Tule, Sulawesi. Terimakasih mba…

Setelah semua peralatan lengkap, saya berangkat dini hari pukul 01.55 dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Sam Ratulangi, Menado.

Pada perjalanan kali ini saya ditemani Willie Bernardi, sosok yang sangat menginspirasi, jago main musik, fasih berbahasa Jerman, inggris, suka foto, sangat cool and so high (bahkan dengan high heel, percayalah tinggi saya hanya dibawah pundaknya).

Setelah sampai di Bandara Sam Ratulangi sekitar jam 06.30 kami masih harus transit beberapa jam lagi, disana kamipun berjumpa dengan ED. Aris Kusnandar dari Menado yang ikut bersama kami menuju Tule. Setelah jam 10.00 kami untuk melanjutkan perjalanan naik pesawat selama sejam munuju sebuah pulau bernama Pulau Karakelang dan mendarat di bandara Melonguane. Saya senang sekali ketika akhirnya mendarat disini, Selamat datang di Melonguane. Nama ini sangat unik, mendengar Melonguane seperti tidak berasa di Indonesia. Yup benar saja, karena pulau ini merupakan salah satu pulau dibaris terdepan di utara Indonesia, letaknya juga sangat dekat dengan pulau Miangas, perbatasan langsung Indonesia dan Filipina.

Saat kami mendarat di bandara Melonguane ternyata bandaranya kecil dan sederhana, mudah mudahan bandara yang baru bisa segera rampung. Kamipun baru tahu bahwa beberapa tahun yang lalu jika ingin ke Melonguane hanya bisa ditempuh dengan jalur laut yang sangat sulit, kebayang besarnya ombak samudra. Kami bersyukur karena sekarang sudah setiap hari, ada satu kali pulang pergi penerbangan dari dan Menado ke Melonguane. Kami disambut dengan hangat oleh gembala setempat namanya Hd. Besinung. Setelahnya kami makan disebuah rumah makan Panorama, tempat makan dengan pemandangan laut khas dengan hamparan pasir dan persinggahan kapal-kapal nelayan. Sambil makan, yang bikin keren adalah viewnya panorama khas pesisir. Cantik banget lihat para nelayan dengan perahu mendarat. So pasti menu makannya pasti ikan laut yang segar dan fresh banget.

Setelah itu kami berangkat dari Melonguane menuju Tule sekitar 45 menit. Disepanjang perjalanan pemandangannya sangat menarik dari daerah pesisir dipenuhi dengan banyaknya pohon kelapa, jembatan dipinggiran laut, aneka gereja dihampir setiap beberapa ratus meter dengan keunikannya. Satu hal juga yang buat orang Jakarta seperti saya menjadi heran adalah semua rumah orang di Melonguane pagarnya berbentuk sama, rapih dan berwarna pink, rasanya seperti berada dalam sebuah cluster amat besar. Ternyata ini adalah salah satu program dana desa untuk pembangunan pagar. Buat pink lover kalian pasti amat senang disini. Sepanjang jalanan memandang suasananya pagar pink. Foto diambil dari dalam mobil.

Naik mobil di Tule tidak boleh cepat-cepat, bukan karena indahnya pemandangan yang terlalu sayang untuk dilewatkan namun karena ada aktivitas dipinggir jalan raya. Bayangkan saja sinyal telpon berjenis smartphone amat susah digunakan, yang menjadi raja adalah handphone jadul yang hanya bisa dipake buat telpon dan SMS dengan operator Telkomsel. Lantas apa hubungannya dengan jalan? ya, sinyal hanya tersedia di jalan raya, tidak ada sinyal didalam rumah jadi kalau mau telpon atau SMS harus ke jalan raya. Jadi jangan heran kalo disana banyak orang duduk/ berdiri dijalan raya bahkan kawanan anjing-anjing sangat suka untuk duduk-duduk jadi penguasa jalan raya.

Setelah 45 menit perjalanan kami sampai di Tule dan disambut oleh warga sekitar, tidak seperti di Jakarta yang umat kristianinya sedikit disana mayoritas adalah umat kristiani, jadi semua yang menyambut kami adalah jemaat gereja kami sendiri yang tinggalnya juga sangat dekat dari rumah ke gereja. Disana karena letaknya yang dekat maka Willie tinggal disebrang gereja, rumahnya Hd. Besinung, sementara saya tinggal rumah ibu Albertina Masoara yang letaknya hanya beberapa rumah disamping gereja.

Ibu Tina adalah sosok yang sangat terpelajar S1 lulusan pendidikan guru sekolah dasar di Universitas Negeri Menado, seorang guru di TK pertiwi Tule. Saya begitu mengagumi sosoknya yang penuh semangat, energik dan begitu melayani pekerjaan Tuhan. Dengan pengalamannya itu beliau juga mengajar dengan penuh semangat anak-anak sekolah minggu. Di Tule jumlah anak sekolah minggu setiap mengajar sekitar 40-50 orang.

Sorenya sambil asyik mengobrol untuk persiapan besok saya mengajar, kami makan berdua dengan lahapnya. Tidak seperti di Jakarta yang selalu makan nasi disana, makan talas, ubi atau jagung itu makanan pokok. Talasnya sangat enak dan terlebih adalah aneka ikan segar yang benar-benar segar dengan dabu-dabu yang pedas. Wiuh, sungguh enak rasanya.

Malamnya kami ke gereja untuk mempersiapkan peralatan baik laptop, proyektor, karton yang di tempel di dinding, keyboard, aneka peralatan materi. Juga yang tak kalah penting adalah bensin dan genset karena besok rencanya pemadaman bergilir. Di Tule setiap selasa dan sabtu adalah jadwal mati lampu. Saya tidak habis pikir kenapa bisa begitu? ternyata memang begitu keadaannya, dan bahkan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya listrik bisa mati mendadak selama ber jam-jam, yang terpenting untuk acara besok kami sudah antisipasi.

Malamnya kami menghabiskan waktu dengan berbicara dengan saudara-saudari dipinggir jalan. Sempat mencoba telpon ke Jakarta tapi sinyal susah. Smartphone saya terlalu canggih untuk digunakan. Hanya handphone jadul milik ED Aris yang aktif menyala.

Walau tanpa handphone, sinyal internet dan apalagi gooling, saya tetap merasakan kegembiraan. Kenapa? karena kalo malam disini seperti di Planetarium. Bayangkan diatas langit yang gelap, kelap kerlip di langit semua bintang bintang bercahaya. Sungguh indah teramat indah untuk dibayangkan. Saya bahkn bisa tiduran direrumputan pinggir jalan raya sambil memandanginya. Sayang tidak ada handphone low light yang bisa menangkap indahnya pesona malam itu.

Selamat tidur dulu. Tidur yang nyenyak untuk persiapan besok dengan pengalaman yang lebih mengagumkan. Bersambung…