Hak Bertanya Pasien Harus Dijawab

Tatkala saya membaca kisah Mbak Prita Mulyasari di blog Ndorokakung dan mbak Tikabanget, hal itu  membuat saya bersedih. Kenapa kebebasan bersuara dicekal oleh UU ITE dan Rumah Sakit Omni tidak legowo menerima itu.

Rumah sakit membuat beberapa orang menjadi trauma mendengar dan mengingat namanya. Banyak kejadian yang menyebalkan dan ada sikap arogan dari rumah sakit dan manajemen yang emosional dan tidak profesional.

Sebagai orang yang pernah ke Rumah Sakit, pernahkan kamu sakit hati dibuatnya?
Mungkin kasusnya tidak sekomplek mbak Prita Mulyasari tapi saya yakin kita semua pernah. Ambillah contoh yang mudah, sikap Arogan pak Satpam saat jam besuk atau aplus (sok banget… pake acara penggeledahan, tidak boleh membawa ini itu, atau pake timer saat besuk). Sebagai orang yang bosan mondar-mandir di rumah sakit dan hapal bagaimana prilaku manajemen rumah sakit, saya sampai bisa menemukan titik celahnya.

Jika salah atu anggota keluarga masuk rumah sakit dan  dokter menyatakan harus dirawat inap atau rawat jalan, tanyakan kepada dokter apa alasannya? mana bukti kalo hal tersebut harus dilakukan. Jika kita tidak cukup mengerti bahasa dokter yang membingungkan bertanyalah pada teman atau saudara yang mengerti. Saya punya cerita sendiri untuk hal ini * kisah jam 3 pagi di RS Halim*

Selama  sakit di rumah sakit, baiklah pada mbak suster disana. Jika ada buah-buahan dan kue kering, kasih sama mbak suster dan teman-temannya, pilih satu yang terbaik dan tanya namanya. Baiklah dengannya dan dia akan menjadikan kita pasien prioritasanya. Terbukti dan sangat membantu *sekali lagi pengalaman pribadi 10 hari dirawat di RS*

Memang tidak semua mbak suster tahu fungsi obat satu persatu apa yang diberikan baik suntikan atau peroral. Cobalah tanya nama merek dan bahan aktifnya. Jika management tidak memberikan datanya,tenang ada mbak suster yang baik hati,  pastilah ada rekam medik untuk setiap tindakan dan mbak suster pasti mencatatnya.

Waktu itu saya dirawat, saya bertanya mbak suster:  “Mbak saya dikasih obat apa? mbak  suster bilang tidak tahu tapi saya akan mencari tahu. Tidak lama mbak suster bilang rantin dan keto apa gitu.  Otak farmasis saya langsung tahu kalo ini ketoprofen 50mg injeksi dan H2 Bloker Ranitidin injeksi. Jika tidak tahu, bertanyalah dengan mbah Google yang baik hati.

Saya tahu bahwa Rumah Sakit  selain berfungsi sebagai tempat pelayanan pastinya pihak manjeman ingin pula ada keuntungan, sudah bukan rahasia lagi and that’s oke and nothing for free. Untuk itulah kita harus bertindak bijak, jika obat menimbulkan efek yang merugikan segelah bertanya pada dokter, kuncinya tidak maksa dan sedikit bersikap sok bodoh padahal pintar.

Cerita sedikit, tatkala tangan saya bengkak gendut sebelah karena suntikan yang menyakitkan (ketoprofen dan  ranitidin injeksi),  saya bertanya: “Mbak suster,  saya tidak sanggup lagi menerima suntikan ini, tubuh saya tidak kuat dan saya sudah tidak mengalami nyeri heba!”. Sedikit berunding alot karena pengobatan hanya bisa distop setelah mendapat persetujuan dokter dan akhirnya mbak suster memberikan nomor handphone sang dokter agar saya berbicara langsung padanya. Saya farmasis dan sedkit menjelaskan kerja kedua obat tersebut kepadanya dan dari hasil pengamatan saya, saya ingin agar injeksi tersebut tidak perlu diberikan lagi, dokterpun menjawab oke.

Jadi, gunakan hak sebagai pasien untuk bertanya. Itu adalah hak yang tidak bisa diganggu gugat, setiap pasien berhak bertanya atas setiap tindakan pengobatan yang diambil. Ingat, ada data rekam medik, tanya nomor handphone dokter, baik sama mbak suster.  Semoga sepulangnya dari rumah sakit tidak lagi membuat kita trauma dengan rumah sakit.