Nurani vs Bisnis: Obat Pembunuh Bayi

Berbisnis obat pembunuh bayi sangat mengiurkan, omsetnya sedemikian fantastis. Satu pil saja bisa berharga 200-an ribu. Pastinya ga cuma beli satu kan. Kamu tertarik untuk beli? *iklan gratis…*. Eh, nanti dulu, saya bukan jualan obat itu hehehe.

Saya baru memenangkan perang dalam hati. Obat ini dapat ditemukan dipasaran, memang sih tidak dijual dikaki lima tapi kalo mau sedikit usaha ada celah untuk mendapatkan. Mau tau bagaimana ceita peperangan hati, berikut sedikit cuplikannya…

Beberapa nama obat terletak diatas meja untuk saya kembangkan (katanya special request). Akhirnya sample reject karena kadar air tidak memenuhi syarat sehingga project obat pembunuh bayi tidak dilanjutkan *syukurlah Tuhan*.  Meski semua jerih payah akhirnya sis-sia, saya begitu lega mendengarnya…

babySebenarnya sebuah obat diciptakan bukan untuk membunuh tapi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Hanya manusianya saja yang menggunakan untuk alasan yang tidak tepat, seperti Nuklir untuk bom hiroshima atau untuk penelitian bioteknologi. Sumber energi yang powerfull. gambar diambil disini

Misalnya, seorang ibu hamil yang karena kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk sebuah persalinan. Dihadapkan pada dua pilihan Ibu atau bayi. Sebuah peperangan batin terjadi, jika diteruskan kedua-duanya pasti mati.

Peperangan hati selalu terjadi dalam setiap kehidupan. Gunakan hati dalam memilih 🙂

13 thoughts on “Nurani vs Bisnis: Obat Pembunuh Bayi

  1. Pingback: Nurani vs Bisnis: Obat Pembunuh Bayi

  2. sll saja ada penyelewengan manfaat obat.
    hati nurani, hakim yang paling jujur.
    terima kasih, sdh mampir dan meninggalkan kenangan manis di blog saya 😀

  3. Salam
    Waduh jangan deh say,pasti banyak orang yang menginginkan obat itu kalau tidak kenapa kasus aborsi lebih dari 2 juta kasus di negeri ini. Biarlah mereka yang tak bernurani membuat pilihan buruk tapi dirimu tidak terlibat didalamnya.
    Btw long time no see ya Jeng, sorry gw agak2 jarang BW and trims banget dah mampir ke NEO SENYAWA, rumah baru gw 🙂
    SEmangat!!!

  4. obat kan bisa jadi pisau bermata dua jeng. kalau disalah gunakan ya jadi alat pembunuh. tapi bila dimanfaatkan secara bijak, ya jadi penyembuh. tapi miris juga rasanya pas lihat berita di tivi beberapa waktu lalu soal praktik aborsi yang dilakukan oleh bidan dan juga dokter…

    akhirnya semuanya balik lagi ke masalah etika dan hati nurani…

  5. Duh duh…bahaya banget, jeng. Apalagi ada kalimat “…tapi kalo mau sedikit usaha ada celah untuk mendapatkan..”

    Saya pernah menangani kasus yang gagal aborsi. Dia cukup depresi karena karena bayi di kandungan hasil berhubungan dengan pacarnya.

    Dan mereka berdua takut menyakiti hati ortu masing-masing karena track-record keduanya : alim, ngga neko-neko, ngga pernah pacaran, berprestasi di sekolah dan kuliah, terlihat pacaran sehat, dan dari keluarga baik-baik.

    Untungnya si perempuan ngga tau tentang adanya obat ini. Dia cuma minum obat-obat umumnya dengan sedikit overdosis yang ngga terlalu signifikan ke rahim. Jadi, janin tetap terselamatkan.

    Hanya saja, sayalah yang jadi penengah saat berkomunikasi dengan keluarganya, supaya mereka bisa menerima kenyataan secara sehat.

    Publikasi tentang ini jangan dilanjutkan ya. Plz..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s