Depresi Pascapersalinan

the-female-brainMenurut Ken Kendler dari Virginia Commonwealth University menemukan bahwa mungkin ada gen-gen yang dapat mengubah risiko depresi dalam respon seorang wanita khususnya selama periode pascapersalinan (The Female Brain, 2006).

Otak wanita setelah melahirkan bayinya menjadi sedikit berbeda. Sang ibu akan menjadi terlalu waspada pada si bayi, tangisan bayi, tidak bisa tidur setelah menyusui, ketakutan akan kematian bayi, gelisah, stress berlebih tanpa alasan jelas. Wanita dengan depresi pasca melahirkan bergelut dalam identitas baru sebagai “ibu”, hilang sebagai individu utuh, perubahan bentuk tubuh.

Dalam hati kecil wanita pascapersalinan ada perasaan takut ditelantarkan pasangan dan keluarga dekat. Seringkali wanita dilingkupi rasa malu untuk mengungkapkan perasaannya karena diharapkan merasa bahagia dengan kelahiran anaknya padahal tidak selalu demikian.

Wanita dalam masa seperti ini sangat membutuhkan bantuan pasangannya, berikan pijatan yang menentramkan hati dan percakapan yang hangat agar jumlah serotonin meningkat dan menimbulkan perasaan bahagia. Wanita perlu itu hehehehe… karena kompleksitas suasana hati akan mempengaruhi penyeimbangan hormonal, identitas menjadi ibu baru, menyusui, tidur, anak dan suami *banyak deh…*.