Ask Pharmacist: Fungsi Seorang Farmasis/ Apoteker

Mbak Rina, pertama saya ucapkan selamat & sukses atas blognya yang ramai dibaca orang. Kedua, maafkan jika saya agak lancang berkomentar. Membaca profilnya, mbak Rina ini seorang lulusan pendidikan tinggi farmasi dan bukan lulusan pendidikan tinggi kedokteran.

Menurut saya, seharusnya mbak Rina tidak memberikan opini atas terapi pengobatan yang harus dilakukan seseorang atas suatu penyakit, karena itu jelas bukan wewenang mbak Rina. Akan jauh lebih baik jika mbak Rina membantu masyarakat mengenali berbagai macam jenis obat yang mereka terima dari dokternya, berikut dengan kandungan obat-obatannya, dan mungkin efek samping jangka pendek dan jangka panjangnya.

Bukannya saya tidak menghargai upaya mbak Rina atau meremehkan Anda. Saya yakin mbak Rina mampu berpikir sedikit lebih jauh – dampak buruk, belum tentu muncul dalam waktu cepat. Sekali lagi, maaf karena komentar saya lancang. Terima kasih & sukses selalu.

Dengan kerendahan hati saya menerima setiap  kritikan dan mohon maaf kalo ada yang merasa dirugikan. Memang tidak mudah mengelola blog selama 4 tahun ini dan tentunya tidak lepas dari banyaknya masukan, saran, komentar, pujian, cacian dan kritikan yang diarahkan kepada saya.

Izinkan saya untuk meluruskan beberapa hal terkait dengan saya sebagai  seorang Apoteker/ Farmasis. Mungkin tidak banyak yang tahu apa sih profesi Apoteker, sebenarnya pekerjaan kami bukan hanya seperti mbak manis yang ada di Apotek untuk memberikan obat kepada pasien disertai informasi aturan pakai dan cara minum obatnya. Ilmu dan kompentensi kami lebih dari itu.

Memang  masih ada kesimpangsiuran dimana posisi Farmasis/ Apoteker, saya pribadipun baru tahu ketika kuliah di bidang Farmasi.  Semua orang awam hanya tahu farmasi itu tentang obat, dosis, efek samping, aturan pakai, meracik obat. Dalam literatur  asal mula farmasi akhirnya disimpulkan bahwa kompetensi farmasi adalah patient oriented untuk pelayanan Pharmaceutical Care. Apa sih Pharmaceutical care?

Pharmaceutical care adalah paradigma baru pelayanan kefarmasian yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan (health care) dan bertujuan untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional, aman, dan efisien demi mencapai peningkatan kualitas hidup manusia.

Tujuan dari pelayanan Pharmacutical Care adalah menyembuhkan penyakit, mengurangi gejala penyakit, menahan penyebaran/memperlambat proses penyakit, mencegah penyakit/penyebab penyakit, Dispensing pharmacy. Peranan profesi farmasi dalam melaksanakan Pharmaceutical Care yaitu mengidentifikasi, mencegah, memecahkan Drug Related Problem (DRP). Jadi sangat dimungkinkan jika Seorang Farmasis/ Apoteker memberikan opini atas suatu terapi pengobatan.

DRP adalah masalah-masalah  yang timbul karena penggunaan suatu obat. Jika terlalu sulit dimengerti, contoh mudahnya seperti ini:  Si Amir sakit A diberi obat B padahal saya tahu obat tersebut tidak rasional dan tidak aman, haruskah saya diam? tidak, sebagai farmasis saya  berkewajiban untuk memberitahukannya dan bila perlu menggantinya*beneran terjadi, untung belum terlambat*

Selain itu, misalnya sakit nyeri punggung dan dikasih obat sama dokter NSAID kok didalamnya ada Ranitidine padahal itu kan buat obat maag. Kenapa? Farmsis sangat tahu jawabannya. Satu lagi deh, misalnya seorang Bapak menderita sakit jantung dan mendapat obat Captopril.  Saya juga dapat menginformasikan bahwa sebaiknya disertakan obat antitussive untuk meredakan batuk kering yang dapat saja muncul karena penggunaan Captopril. Gambar diambil disini.

Akhirnya saya ingin menghimbau, berikanlah ruang untuk Farmasis/ Apoteker maju dan mengabdi lebih untuk melayani masyarakat dengan kompetensi yang kami miliki. Kehadiran Farmasis/ Apoteker bukan untuk menggeser profesi lain tetapi bekerjasama sebagai rekan yang sejawat untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Just ask your Pharmacist!.

Lamaran Pekerjaan untuk Farmasis/ Apoteker

salam kenal yaaa. Aku mahasiswa farmasi semester 5. Aku masih belum punya banyak ilmu tentang farmasi dan juga gag punya orang2 deket yang ada di lingkungan farmasi. Aku mau tanya sebenarnya lulusan farmasi itu peluang kerjanya dimana aja mbak?? yang aku tau kebanyakan di apotek, industri ma rumah sakit mbak. Intinya aku pengen tau dunia farmasi itu kayak apa. makasii ya. Anna

Sayapun pernah merasakan hal seperti ini setelah saya lulus, saya mau kerja dimana?. Apakah Apoteker/ farmasis hanya kerja di Apotek atau Rumah Sakit? jawabannya tentu saja tidak. Ladang pekerjaan farmasis sedemikian besar.

Yang paling dicari setelah lulus apoteker bukan hanya nlai IPK tinggi tapi punya skill seperti mengusai komputer, pengalaman organisasi, menguasai bahasa inggris, mandarin, berpenampilan menarik, dll. Kenali diri sendiri apakah kamu orang yang suka bekerja dibelakang meja atau orang lapangan.

Lalu, lamaran kerja saya bisa di-apply ke perusahaan apa saja?

Continue reading

MICROSOFT BLOGGERSHIP 2011: Menyehatkan Bangsa, Menyelamatkan Nyawa Manusia

Teknologi komunikasi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari saat ini. Di waktu pagi, kita mengawali hari dengan dibangunkan oleh alarm handphone. Setelah sarapan pagi, kita menyalakan televisi untuk menonton acara berita. Di kantor, kita menyalakan laptop atau komputer dan untuk berselancar dan menyapa teman di dunia maya.  Saat ini, teknologi bahkan sudah menjadi kebutuhan dasar manusia modern selain sandang, pangan dan papan.

Melalui kemunculan teknologi komunikasi, muncul kebutuhan baru untuk selalu memperoleh informasi. Saat kita berselancar di dunia maya, menelusuri garis waktu di Twitter, dan membaca status terbaru teman-teman dekat di Facebook atau jaringan sosial lainnya, kita menyerap informasi dengan begitu cepat. Tapi, bila dulu kita lebih banyak mencari tahu tentang informasi terbaru, saat ini informasilah yang menyerbu kita dengan derasnya.

Tentu saja, terobosan teknologi dalam bidang komunikasi ini membawa berbagai dampak positif dan negatif. Kampanye untuk menutup akses terhadap pornografi dan gerakan-gerakan seperti Internet Sehat menunjukkan bahwa ada sisi gelap dari teknologi yang perlu diperangi bersama. Mengenai segi positifnya, tentu tidak kalah berlimpah.

Dua tahun lalu, saya memutuskan bahwa internet merupakan tempat yang paling tepat bagi saya untuk berbagi. Sejak menjadi mahasiswa di sebuah fakultas farmasi di Jakarta, saya telah memiliki mimpi. Dosen kuliah Perapotekan saya dulu berpesan, ia berharap agar para lulusan farmasi mampu melaksanakan pelayanan Pharmaceutical Care kepada masyarakat. Farmasis atau apoteker posisinya setara dengan profesi di bidang kesehatan lainnya, jadi tidak salah kalau mereka juga turut berbagi informasi tentang kesehatan.

Continue reading

300.000: Siapa Pembaca Blog Ini?

Pagi ini total views statistik hampir menyentuh angka 300.000-an. Menurut saya ini prestasi yang baik untuk seorang blogger yang jarang blogwalking, tidak pake teknik SEO, jarang  menebar komen, tidak punya banyak back-link, saya bahkan baru sekarang menampilkan siapa saya.

Ini jadi suatu bukti bahwa betapa masyarakat kita sudah mulai peduli kesehatan. Mencari tahu sendiri mengenai informasi kesehatan dan obat, apalagi kalo mereka tahu bahwa pemiliknya adalah tenaga kesehatan.  Wah,  makin banyak pertanyaanlah yang saya terima untuk konsutasi.

Saya bahkan tidak tahu mereka siapa, darimana asalnya, bagaimana tahu blog ini, tahu-tahu ada komentar/pertanyaan di inbox email saya. Sedikit sekali yang saya kenal secara pribadi (bisa dihitung dengan jari). Saya jadi penasaran, siapa sih pembaca blog ini?

Kemungkinan  search dari Google, pembaca setia RSS, silence reader, tahu saya ini Farmasis/ Apoteker, nyasar kesini hehehe. Kamu termasuk yang mana? Please tell me. Thank you.

Sumpah Apoteker

kemaren lagi liat-liat foto waktu pelantikan dan sumpah apoteker. jadi inget waktu itu kami melafalkannya kompak *jaman idealisme tinggi*.

sepertinya saya belum sepenuhnya melaksanakan apa yang pernah di lafalkan dulu :-l. bunyinya seperti ini:

saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan prikemanusiaan terutama dalam bidang kesehatan.

saya akan merahasiakan segala yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan keilmuan saya sebagai apoteker.

sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kefarmasian saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan.
saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.

dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berikhtiar dengan sungguh- sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial.

saya ikrarkan janji ini dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keinsyafan.

Pilih Mana Dokter Atau Farmasis?

Saat ini dengan melimpahnya informasi obat dan kesehatan, kita dapat memilih sendiri semua informasi tersebut. Namun terkadang ada saja informasi yang keliru, mitos yang salah, dll. Kepada siapakah kita dapat bertanya mengenai sumber informasi obat yang terpercaya?

Jawabannya terserah anda, mungkin ada yang mencari sendiri, tanya tetangga, tanya dokter, tanya temen, dll. Saya pribadi kalo disuruh memilih lebih memilih bertanya kepada farmasis. Maaf para dokter jangan marah… kalo saya tulisnya farmasis.

Memang profesi farmasis atau apoteker masih dipandang sebelah mata atau tidak populer ditelinga masyarakat. Tidak ada yang tau susahnya jadi farmasis. Kurangnya sosialisasi ke masyarakat menyebabkan farmasis hanya bekerja dibelakang layar dan hanya bekerja dalam alur distrusi obat. Padahal secara jalur akademik seorang farmasis mengerti obat sampai hal yang mendetail, mulai dari sintesis, formulasi, pembuatan, sampai distribusi obat.

Umumnya masyarakat hanya tau siapa sih farmasis atau apoteker? ituloh, mbak yang jaga di apotek yang namanya mejeng didepan pintu masuk. Padahal jika seseorang akan dikatakan sebagai seorang apoteker, diaharuslah lulus sarjana farmasi dan kemudian mengambil program profesi apoteker utuk melengakapi kompetensinya.

di luar sana banyak informasi tentang kesehatan, dan banyak pula yang menyesatkan. jangan tinggal diam. sudah saatnya yang merasa sebagai anak farmasi angkat bicara. jangan malu menunjukkan kemampuan diri. mana pharmaceutical care untuk masyarakat.

saya ingin farmasis punya peran dalam keluarga juga masyarakat. jadikan kita (para farmasis) sejajar dengan rekan sejawat tenaga kesehatan lain.

Akhirnya saya ingin mengarisbawahi bahwa kita sesama tenaga kesehatan adalah rekan sejawat, mari kita hidup dalam harmoni yang sehat. melakukan tugasnya masing-masing sesuai pada porsinya.

FARMASI SATU…

TIPS MEMBACA RESEP DOKTER

Setiap berobat ke dokter pastilah sang dokter akan mendiagnosa penyakit dan kemudian akan menuliskan resep untuk kita tebus. Selanjutnya kita akan langsung meluncur ke Apotek terdekat untuk menebus dan membayarnya . betul??

Sekarang setelah mendapat resep dari dokter ada baiknya kita melihat isi dari resep. Saya yakin sebagian atau bahkan hampir semua dari kita tidak bisa membaca resep dari dokter *hehehe udah janjian ama saya*.

Dulu tulisan cakar ayam dokter dimaksudkan agar si pasien sengaja tidak tahu tapi dengan sejalannya waktu saya berpikir sebagai orang yang tahu akan obat, sebaiknya pasien berhak untuk mengetahui obat apa yang diberikan. ada yang setuju?

apa sih sebenarnya resep? resep ada sebuah permintaan dokter kepada seorang apoteker/ farmasis untuk mengambil sejumlah tertentu obat.

Saya kasih tahu cara membaca sebuah resep. *wekkkk saya perlu kuliah ini 2 sks loh plus prakterk 2 sks. ga pentingya buat dikasih tahu hehehehehe*

ikan cucut makannya kancut

ayo ikut, siaran berlanjut * bakar-bakar*

RESEP 1

R/ pct 500 no. X

S 2 dd 1 ac

Artinya: ambillah paracetamol dosis 500mg berisi 10 tablet yang jangan lupa diberikan dua kali sehari sebelum makan :)

RESEP 2

R/ cefepime 250 mg syr fl no.1
S 2 dd cth no I

artinya: ambillah Cefepime satu botol yang dosisnya pake yang 250 mg/5mL, jangan lupa diberikan dua kali sehari satu sendok teh (5 mL)

RESEP 3

R/ tmp 10mg
as mefe 100mg

msf da pulv dtd no XV
S 3 dd pulv I pc

Artinya: ambil Trimethoprim 10mg dan asam mefenamat 100mg, lalu campur menjadi satu dan bagi sebanyak 15 bungkus terus puyernya diminum 3 kali sehari setelah makan.

Semoga bisa dimengerti, anak-anak hehehehehehe *Ibu dosen FFUP banget*

Sekalian saya tambahin deh…..

Setelah kita menerima obat jangan lupa bertanya obat apa yang diberikan dan apa isinya dan aturan pakainya. bertanyalah karena sekarang udah ada yang namanya pelayanan pharmaceutical care.

Jika kita mendapat resep yang sampai 5 item lebih kita harus bertanya-tanya apakah isinya mengapa sampai banyak begitu, karena menurut saya itu namanya Polifarmasi. Poifarmasi artinya obat banyak. Obat yang terlalu banyak diberikan. Biasanya tulisan R/ pertama dan kedua adalah bahan yang berkhasiat untuk menyembuhkan dan R/ ketiga dan keempat untuk tambahan atau diberikan vitamin tambahan. Gitu deh… *manggut-manggut*